Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira di Kantor Tempo, Jakarta, 20 November 2024. TEMPO/M Taufan Rengganis
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira angkat bicara menanggapi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke Indonesia sebesar 32 persen.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Bisa memicu resesi ekonomi Indonesia di kuartal IV 2025,” kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Kamis, 3 April 2025, seperti dikutip dari Antara.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Bhima menjelaskan, kenaikan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden AS Donald Trump akan berdampak signifikan ke ekonomi Indonesia. Tak hanya berdampak pada kuantitas ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, menurut dia, kebijakan itu juga bisa turut memberikan dampak negatif berkelanjutan ke volume ekspor ke negara lain.
Dengan tarif resiprokal tersebut, menurut Bhima, sektor otomotif dan elektronik Indonesia akan berada di ujung tanduk. Pasalnya, konsumen AS menanggung tarif dengan harga pembelian kendaraan yang lebih mahal yang menyebabkan penjualan kendaraan bermotor turun di AS.
Akibat korelasi ekonomi Indonesia dan AS dengan persentase 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi AS, menurut dia, maka ekonomi Indonesia turun 0,08 persen. “Produsen otomotif Indonesia tidak semudah itu shifting ke pasar domestik, karena spesifikasi kendaraan dengan yang diekspor berbeda. Imbasnya layoff dan penurunan kapasitas produksi semua industri otomotif di dalam negeri,” ujar Bhima.
Selain sektor otomotif dan elektronik, Bhima memperkirakan industri padat karya seperti pakaian jadi dan tekstil juga akan menurun. Sebab, banyak jenama global asal AS memiliki pangsa pasar besar di Indonesia.
“Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan turunkan jumlah order atau pemesanan ke pabrik Indonesia. Sementara di dalam negeri, kita bakal dibanjiri produk Vietnam, Kamboja dan Cina karena mereka incar pasar alternatif,” kata Bhima.
Oleh sebab itu, Bhima merekomendasikan agar Indonesia tidak terlalu terpengaruh terhadap tarif resiprokal yang diterapkan AS. Ia juga mendorong pemerintah mengejar peluang relokasi pabrik dengan cara memberikan regulasi yang konsisten, efisiensi perizinan, kesiapan infrastruktur pendukung kawasan industri, sumber energi terbarukan yang memadai untuk memasok listrik ke industri, dan kesiapan sumber daya manusia.
Sebelumnya diberitakan Presiden AS Donald Trump pada Rabu, 2 April 2025, telah mengumumkan kenaikan tarif sedikitnya 10 persen ke banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terhadap barang-barang yang masuk ke negara tersebut.
Menurut unggahan Gedung Putih di Instagram, Indonesia berada di urutan ke delapan di daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan besaran 32 persen. Adapun sekitar 60 negara bakal dikenai tarif timbal balik separuh dari tarif yang mereka berlakukan terhadap AS.
Berdasarkan daftar tersebut, Indonesia bukan negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang menjadi korban dagang AS. Ada pula Malaysia, Kamboja, Vietnam serta Thailand dengan masing-masing kenaikan tarif 24 persen, 49 persen, 46 persen dan 36 persen.
0 Komentar